Thursday, August 22, 2013

Elegi Taman Djamoe Indonesia



Elegi. Suatu kata yang sering digunakan untuk menyebut jenis puisi atau lagu bernada penuh kesedihan dan kedukaan. Elegi juga bisa digunakan untuk menggambarkan perasaan (terlampau) sedih manakala menghadapi maupun melihat sesuatu, biasanya kematian, tragedi atau bencana. Kemarin, perasaan serupa muncul dalam diri saya ketika mengunjungi salah satu tempat wisata di sekitaran Kota Salatiga. Tempat wisata yang dibangun guna melestarikan salah satu kebudayaan asli negara kita-Indonesia.

Pagi itu ditemani dua orang sahabat, motor kami berhenti di area parkir bangunan modern bercat hitam dan abu-abu. Tak nampak ada kendaraan lain yang parkir selain kedua motor kami. Kami bertiga dengan sedikit kebingungan pun segera memasuki gedung dan disambut oleh seorang satpam disana. Setelah mengetahui maksud kedatangan kami, sebuah buku berwarna hijau disodorkan olehnya-buku tamu wajib isi bagi seluruh pengunjung yang datang. Saat mengisi buku tamu ini saja, hati saya sudah sedih. Bayangkan saja, kunjungan terakhir sebelum kami terjadi pada 4 Agustus 2013, persis di atasnya bahkan tercatat pertengahan Juli lalu. Padahal, kalender kemarin saja menunjukkan tanggal 21 Agustus 2013. Setelah membayar tiket kepada satpam merangkap petugas tiket tadi, kami memulai penjelajahan di tempat nan sepi pengunjung tersebut.
Selamat datang di Taman Djamoe Indonesia. Taman yang beralamat di Jalan Raya Semarang Bawen Km 28, tepatnya persis di depan SMAN 1 Bergas ini merupakan wujud kepedulian dan kecintaan seorang wanita bernama Lauw Ping Nio atau yang lebih dikenal dengan nama Nyonya Meneer terhadap tanaman obat-obatan dari Indonesia. Tahu Nyonya Meneer kan? Yup, wanita yang sama dengan pendiri Jamu Cap Potret Nyonya Meneer-perusahaan keluarga dimana menjadi cikal bakal perusahaan jamu terbesar di Indonesia.

Bu Meneer ini suka sekali menanam dan merawat tanaman obat, awalnya hanya tiga jenis tanaman yang dimiliki yakni Laos (Alpinia galanga), Salam (Eugeniapolyantha wight), dan Sereh (Andropogoncitratus). Lama kelamaan jenis dan jumlah tanaman obat ini terus bertambah sehinga Bu Meneer kemudian membeli 3 hektar tanah di Kecamatan Bergas hanya khusus untuk menanam serta mengembangkan tanaman obat koleksinya itu. Tanah penuh tanaman obat ini selanjutnya dijadikan Kebun Tanaman Obat Nyonya Meneer pada 15 September 1981 yang ditujukan sebagai wadah pelestarian sekaligus pendidikan terkait tanaman obat. Di masa kepemimpinan Dr.Charles Saerang-generasi ketiga dari Nyonya Meneer-kebun tanaman obat tersebut didesain dan diubah menjadi Taman Djamoe Indonesia yang hingga detik ini tercatat memiliki lebih dari 450 jenis tanaman obat.

Sesaat setelah melewati ticket booth, kami bertiga sampai di area museum mini. Disana terdapat berbagai sejarah terkait taman jamu beserta beberapa contoh tanaman obat yang dikeringkan dan alat-alat pembuatan minuman jamu pada jaman dahulu. Selain itu terdapat pula beberapa barang pecah belah unik dan kuno. Beberapa tukang bangunan nampak tengah membenahi salah satu ruangan yang ada di sebelah museum sehingga memberikan sedikit hawa kehidupan. Untung ada mereka, kalau tidak dalam area tersebut hanya ada kami bertiga yang kucluk-kucluk seperti orang bingung.

Lapor, tiket berhasil diamankan

Beberapa koleksi musem, ada tanaman obat
yang sudah dikeringkan

Piring cantik

Bapak satpam nampaknya melihat raut kebingungan di muka kami, dia mengatakan kalau sudah puas melihat-lihat isi museum bisa menuju ke taman belakang. Tanpa menunggu lama, kami bertiga pun menuju ke taman yang dimaksud. Matahari yang bersinar cukup terik tak menghalangi niatan kami untuk menyusuri taman penuh dengan tanaman-tanaman obat itu. Beberapa kali kami berpapasan dengan para pekerja yang tampak sibuk dengan tugas masing-masing, ada yang menyiangi rumput, ada yang membersihkan lumut, ada pula yang nampak membersihkan taman dari daun-daun kering.


Pekerja nampak tengah membersihkan dinding kolam

Penataan taman ini sungguh cantik. Taman yang cukup luas ini terbagi ke beberapa zona seperti zona kelapa sawit, zona aroma, dan zona puspa warna. Semua tanaman obat yang ada disana memiliki papan kecil berisikan informasi terkait nama (Indonesia maupun latin) dan juga fungsinya. Beberapa tanaman memiliki nama unik dan terkadang membuat kami tertawa ketika melihatnya. Baru kali itu saya melihat secara langsung ada tanaman bernama nyonya makan sirih, tembelekan, pecut kuda, kedondong laut, umyung dan lain sebagainya. Semuanya bikin saya terkesima sekaligus sedih. Terkesima karena lengkapnya, sedih karena sepinya.

Zona kelapa sawit


Tiny yellow flowers!

Koleksi tanaman lain

Hai cantik!

Anda tidak sedang salah membaca. Tembelek dalam Bahasa Jawa
sendiri artinya adalah kotoran. Berarti kotoran-an gitu? :p

Jangan menanyakan fasilitas yang ada di tempat ini, buat saya pribadi fasilitasnya sangat lengkap dan sungguh memanjakan pengunjung. Ada pusat pembibitan tanaman, rumah kaca, gazebo, gardu pandang, kolam, bahkan semacam theater kecil terbuka disana. Kalau ada yang mau berolahraga, disediakan jogging track bahkan penyewaan sepeda dengan harga terjangkau. Eits, jalan kaki keliling taman saja sudah bikin keringatan. Mau merawat tubuh? Wah bisa banget, ada berbagai paket spa berbahan dasar jamu yang bisa dipilih oleh para pengunjung. Ada pula Djamoe Market, Gift Shop dan Meneer Corner yang memanjakan pengunjung dengan berbagai komoditasnya. Datang pakai helikopter? I saw a helipad in there! Kurang apa lagi coba?

Nimba dulu yak? Haus!

Tempat pembibitan

Glass House

Ada gardu pandang juga

Panas kak -_-

Kami bertiga kemarin sempat mencoba es krim jamu di Meneer Corner. Es krimnya dibikin dua model-plastic cup atau ala es lilin. Berbagai varian rasa-tentunya berbau jamu-bisa dipilih dengan harga murah. Saya kemarin memilih mencicipi es lilin Edamame (Kedelai Jepang) beraroma pandan karena bentuk dan warnanya lucu. Surprisingly, rasanya enak! Tidak semengerikan yang saya bayangkan sebelumnya. Tenang saja, kalau tidak suka minuman dingin bisa memesan minuman jamu versi hangat yang dijamin selain menyegarkan juga menyehatkan.

Meneer Corner and Gift Shop

Es lilinnya cece...btw, jadi inget jaman SD. -_-

Jamu om...tante...

Saat minum es krim jamu itu pikiran saya kembali kemana-mana. Perasaan sedih pun kembali muncul. Saya heran, ada tempat wisata selengkap ini tapi kok bisa minim pengunjung. Apalagi tempat ini sengaja dibangun untuk menjaga kelestarian kebudayaan asli negara kita yakni jamu. Konon, minuman tradisional yang bermanfaat bagi kesehatan ini pertama kali hanya digunakan oleh kalangan kerajaan hingga kemudian diajarkan dan ditularkan pada rakyat jelata. Warisan turun temurun ini rasanya kok sayang sekali bila suatu saat nanti harus menghilang dari bumi Indonesia. Untuk itu semoga dengan tulisan sederhana ini bisa memancing masyarakat Indonesia untuk kembali mencintai sejarah dan budaya mereka, misalnya melalui kunjungan ke museum atau Taman Djamoe ini mungkin. Mari bawa suka gembira ke tempat-tempat itu, jangan biarkan duka dan sepi terus menyambangi mereka.


How Much To Enter:
Senin-Jumat (Weekday): Rp 7.500,00
Sabtu-Minggu (Weekend): Rp 10.000,00

Cost:
Es Lilin Rasa Edamame: Rp 2.000,00


Salam Kupu-Kupu ^^d



2 comments:

  1. tak kira Nyonya Meneer tu orang Belanda...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan-bukan, Meneer itu asal katanya dari menir alias sisa tumbukan beras. Konon, dulu ibunya nyonya meneer ngidam nyemil menir ntul. Kesana gih, kasian lo kondisinya. :(

      Delete