Monday, December 23, 2013

Salah Jalan Membawa Kami Ke Makam Raja Imogiri



Tak selamanya salah jalan itu buruk. Terutama saat tengah menjelajahi suatu daerah yang begitu asing dengan kita, salah jalan seringkali justru membawa kita ke pengalaman dan obyek wisata tak terduga. Cerita kali ini adalah salah satu contohnya. Ini merupakan cerita lanjutan dari petualangan saya, Uul dan Yanta dalam menjelajahi sisi lain Yogyakarta minggu kemarin.


Semua bermula dari jalanan Pasar Kotagede. Siang itu setelah puas mengublek-ublek lorong Kotagede, rencananya kami hendak melanjutkan petualangan ke Kompleks Pakualaman. Sebelum ke Pakualaman, saya pesan kepada Yanta dan Uul kalau nanti mampir ke Monumen Pacak Suji sebentar buat mengambil gambar. Yanta yang sudah siap duluan dengan motornya berjalan di depan kami. Jalan yang kami lewati sebenarnya adalah jalan yang sama ketika kami datang tadi pagi. Pas sampai di pertigaan, entah kenapa Yanta memilih arah yang lurus. Saya yang mengekor di belakang sebenarnya sudah merasakan kejanggalan, namun saya tetap diam karena Uul-sang navigator-juga diam membisu di boncengan motor yang kami berdua naiki.

Saya makin yakin kalau kami salah jalan setelah cukup lama menyusuri jalan, kami tidak menjumpai Monumen Pacak Suji lagi. Uul yang saya tanyai soal salah jalan ini cuma mengiyakan dan menyuruh saya untuk mengikuti jalan dengan komandonya. Tak berapa lama, "loh, kok sampai Banguntapan?", "loh, ini kan jalan ke arah Imogiri?, "err, kalau jalan-jalannya diganti ke Makam Raja Imogiri gimana?", celoteh Uul berurutan. Saya dan Yanta hanya bisa mengangguk tanda setuju. Yah, kami sudah terlanjur sampai kemari, sudah terlampau jauh pula dari tujuan awal kami-Kompleks Pakualaman.

Ternyata Makam Raja Imogiri masih lumayan jauh. Ada sekitar setengah jam waktu yang kami tempuh sebelum masuk ke gapura selamat datang. Buru-buru, motor kami titipkan di salah satu rumah warga yang menyewakan halaman rumahnya sebagai tempat parkir kendaraan. Awalnya saya pikir Makam Raja Imogiri berada di dekat-dekat situ, ternyata tidak, kata Uul kompleks makam tersebut berada di atas bukit. Kami bertiga pun segera menaiki anak-anak tangga menuju kesana. Anak-anak tangga ini melewati rumah-rumah penduduk di sisi kanannya, kebanyakan penduduk memanfaatkan rumah mereka untuk menawarkan berbagai komoditas bagi wisatawan seperti caping, blangkon, batik, makanan, hingga minuman wedang uwuh-sejenis minuman tradisional yang terdiri dari banyak rempah-rempah.

Penjual caping


Penjual wedang uwuh

Seusai 10 menitan meniti anak-anak tangga sampailah kami di area datar yang nampaknya menjadi pelataran dari Makam Raja Imogiri. Ada semacam pendopo terbuka yang bisa digunakan untuk beristirahat sejenak di sisi kanan, dan masjid sederhana berwarna putih di sisi kiri pelataran. Tapi yang membuat mata saya terbelalak adalah: di depan saya, deretan anak tangga terpampang lagi menuju ke atas, menuju ke tempat peristirahatan para raja. Berkali-kali saya bertanya kepada Uul, sekedar meyakinkan apakah Makam Imogiri benar-benar berada di atas sana. Iya, ada di atas sana, di atas sana. Oh. *ngelus betis*




Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara seorang pria, seorang abdi dalem menyuruh kami untuk sholat terlebih dahulu sebelum naik ke atas. Katanya, mumpung sudah masuk waktu dzuhur. Saya dan Yanta pun manggut-manggut, kami berdua segera duduk di pendopo untuk melepas sepatu dan rehat sejenak. Abdi dalem tadi mendatangi kami, menanyakan dan bercerita berbagai macam hal, termasuk jumlah anak tangga untuk sampai ke atas. Cuma 409, tukasnya singkat. Hah?

View tangga dari bawah

View dari atas, semacam tak berujung

Yanta dan puluhan anak tangga

Selepas sholat, kami bertiga siap menapaki ke 409 anak-anak tangga itu. Yanta naik terlebih dahulu karena mau memastikan kebenaran jumlah anak tangga. Saya dan Uul? Kami berjalan naik perlahan-perlahan, setapak demi setapak, sambil mengatur nafas yang naik turun. Untungnya, sepanjang pendakian kami semua diteduhi oleh pepohonan besar di kanan-kiri tangga. Di beberapa tempat, persis di samping tangga terdapat nisan-nisan tak berketerangan. Entah siapa saja yang berbaring disana.

Pepohonan yang meneduhi

Deretan nisan

Nyaris mendekati puncak, dua wanita tua menyapa kami sambil menjajakan dagangannya. Minuman dingin nampak begitu menggoda di hadapan saya. Ah, tapi nanti dulu. Kami belum mencapai puncak, ini justru ada percabangan jalan yang membagi anak-anak tangga menjadi tiga jalur. Seolah menangkap kebingungan di raut muka saya, salah seorang wanita tua itu menjelaskan, kalau lurus ke Makam Raja Mataram Kuno, ke kanan menuju Makam Raja Kasultanan Yogyakarta, sedangkan kalau ke kiri menuju Makam Raja Kasunanan Surakarta.

Kami bertiga memutuskan untuk menuju arah kanan terlebih dahulu, melihat Makam Raja Kasultanan Yogyakarta. Tembok tinggi berwarna putih tampak mengelilingi pasarean para sultan. Pintu kayu nan besar menutup rapat jalan masuk menuju ke makam masing-masing sultan. Pada bagian depan setiap pintu terdapat papan informasi yang menjelaskan siapa yang beristirahat dalam damai di balik pintu-pintu tersebut, seingat saya ada papan bertuliskan Sri Sultan Hamengkubuwono I dan IX. Entah kenapa saat berada di sekitar situ saya justru merasakan ketenangan dan keteduhan, seolah-olah kami ini sedang tidak berkunjung ke makam para orang penting dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta.

Pintu makam Sri Sultan Hamengkubuwono I dan gemboknya,
photo edited by Uul

Malah kaya taman ya?


Uul melas :p

Berjalan ke area Makam Raja Mataram Kuno, lagi-lagi kami tertampar kenyataan kalau kami datang bukan pada waktu yang tepat. Jadwal kunjungan ke makam ini justru lebih ketat dari makam di Kotagede yakni hanya pada hari Senin, Jumat, 1 Syawal, 8 Syawal dan 10 Besar. Selebihnya, setiap pengunjung hanya bisa melihat pintu-pintu yang tertutup. Di depan pintu masuk area makam terdapat empat tempayan besar bertuliskan Nyai Danumurti, Kyai Danumaya, Kyai Mendung dan Nyai Siyem. Kabarnya, tempayan-tempayan tersebut merupakan sumbangan dari berbagai kerajaaan dan berisikan air suci.


Salah seorang abdi dalem

Tempayan Kyai Danumaja
Pintu Makam Raja Mataram Kuno

Saat berada di area Makam Raja Kasunanan Surakarta, secercah harapan muncul ketika melihat salah satu pintu ada yang dibuka. Ternyata persis setelah pintu terdapat pendopo terbuka berukuran kecil dan sebuah bangunan kayu sederhana tampak menempel di pojokan dinding. Namun sayang, saat hendak melihat lebih ke dalam, dua orang abdi dalem mengatakan kalau tidak boleh masuk ke area makam. Kami pun segera keluar dan kembali menikmati wisata pintu tertutup kami disana. Omong-omong, Makam Raja Imogiri dibangun pada tahun 1632 dan proses pembangunannya memakan waktu selama 346 tahun. Wow!


Pintu Makam Sri Susuhunan
Paku Buwono VI

Sekali lagi, tidak selamanya salah jalan itu buruk. Kalau dipikir kami bertiga mungkin belum pernah memikirkan mengunjungi Makam Raja Imogiri sebelumnya, eh tapi karena salah jalanlah kami bisa sampai kesana. Yah, meski kami kurang beruntung sebab mendapati pintu-pintu yang tertutup rapat tapi saya cukup senang kok. Lain kali harus diulang kesana mungkin ya. :)


Cheers!

Walking into wrong direction once in your life is pretty okay, as long as you remember how to stay calm and how to back.
Salam Kupu-Kupu ^^d

P.S. All photos without watermark are captured by Uul or Yanta.

No comments:

Post a Comment